pernikahan adat jawa

Suku Jawa merupakan salah satu suku di Indonesia yang kental akan tradisi leluhur, tidak terkecuali dalam urusan pernikahan. Setiap prosesi sakral pada pernikahan adat Jawa mengandung makna filosofis yang tinggi.


[adrotate banner=”3″]


11 Prosesi Pernikahan Adat Jawa

Jika kamu terlahir sebagai suku jawa atau berjodoh dengan suku Jawa, adat istiadat ini wajib kamu pelajari.

Alur prosesi pernikahannya terdiri dari :

  • Tratag dan tarub,
  • Siraman,
  • Midodareni,
  • Kembar mayang,
  • Balangan gantal,
  • Wijikan,
  • Sikepan sindur,
  • Pangkuan,
  • Tampa kaya,
  • Dulang-dulangan,
  • Dan sungkeman.

Lebih rincinya, kamu bisa simak penjabaran berikut ini.

[adrotate banner=”1″]

1. Tratag dan Tarub

Sumber : https://budayajawa.id/

Tratag dan tarub sejatinya merupakan bagian dari tenda pernikahan. Tratag adalah dekorasi tenda, sedangkan tarub adalah hiasan janur yang melengkung. Hiasan ini memiliki makna pengharapan berkah dan kemakmuran serta harapan baru bagi kedua mempelai dari Yang Maha Kuasa.

Selain itu, secara simbolik hadirnya tratag dan tarub mengisyaratkan bahwa sang keluarga sedang mengadakan sebuah hajatan mantu. Dalam tenda biasanya diberikan jalan dengan tarub yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dengan makna masing-masing.

Persiapan pernikahan adat Jawa memang seringkali dianggap rumit. Namun dibalik kerumitan tersebut selalu tersimpan doa-doa yang baik dan diyakini membawa kebaikan pula di masa yang akan datang.

2. Siraman

Sumber : http://blog.airyrooms.com/

Siraman berasal dari kata Bahasa Jawa ‘siram’ yang artinya mandi. Prosesi siraman sebaiknya dilakukan tepat satu hari sebelum dimulainya upacara pernikahan. Makna dari prosesi ini adalah membersihkan kedua pengantin dari segala bala dalam menyambut ritual besar.

Dalam melakukan siraman, ada tujuh orang yang akan menyiram air ke kepala mempelai. Angka tujuh dipilih karena dalam Bahasa Jawa adalah ‘pitu’ yang disimbolkan sebagai pitulungan atau pertolongan.

[adrotate banner=”1″]

3. Midodareni

Sumber : popbela.com

Midodareni biasanya dilakukan bersamaan dengan silaturahmi antara kedua keluarga besar. Rombongan keluarga dari mempelai pria akan berkunjung ke kediaman mempelai wanita. Prosesi ini dilakukan sebelum pernikahan dimulai di hari esoknya.

Midodareni berasal dari kata Bahasa Jawa ‘widodari’ yang berarti bidadari. Mempelai wanita diharuskan berdiam diri di kamar sejak pukul 18:00 hingga pukul 24:00 dengan riasan sederhana. Hal ini dimaksud agar mempelai secantik Dewi Widodari.


[adrotate banner=”3″]


4. Kembar Mayang (Janur Kuning)

Sumber : hipwee.com

Kembar mayang terdiri dari rangkaian janur, daun, dan ornamen-ornamen lainnya yang memiliki makna masing-masing. Kembar mayang akan dibawa oleh dua orang wanita dan dua orang pria yang belum menikah.

Janur kuning ada yang dirangkai menyerupai keris yang bermakna pengantin harus berhati-hati, pandai, dan bijaksana dalam mengarungi bahtera rumah tangga kehidupan. Selain itu juga ada yang dirangkai menyerupai burung yang bermakna motivasi yang tinggi dalam menjalani  hidup berumah tangga.


Baca juga : 


5. Balangan Gantal

Sumber : https://mataanginphotography.files.wordpress.com/

Balangan artinya saling lempar dan gantal artinya daun sirih yang diikat. Daun sirih yang diikat dengan benang lawe ini berisi kapur sirih, bunga pinang, secuil gambir, dan irisan tembakau hitam. Prosesi ini mengisyaratkan kedua mempelai saling melempar cinta dan kasih sayang.

Saat kedua mempelai dipertemukan dari arah berlawanan, mereka akan saling melempar gantal. Biasanya prosesi ini dilakukan ketika kedua mempelai berjarak kurang lebih dua meter.

Prosesi ini dimulai saat mempelai pria melemparkan gantal ke arah dahi, dada, dan lutut mempelai wanita. Kemudian dibalas oleh mempelai wanita dengan melempar ke arah dada dan lutut mempelai pria.

[adrotate banner=”1″]

6. Wijikan (Injak Telur)

Secara garis besar, wijikan dilakukan setelah mempelai pria menginjak sebuah telur. Telur memiliki makna berupa harapan agar pengantin memiliki momongan atau keturunan dari hasil cinta kasih keduanya.

Setelah menginjak telur, mempelai wanita kemudian membasuh kaki mempelai pria sebanyak tiga kali. Prosesi ini dikisahkan sebagai wujud bakti dan lambang kesetiaan seorang istri kepada suaminya. Selain itu juga dipercaya menghilangkan halangan menuju rumah tangga yang diidamkan.

7. Sikepan Sindur

pernikahan adat Jawa
Sumber : http://alienco.net/

Sikepan sindur adalah prosesi ketika membentangkan kain (sindur) pada kepala kedua mempelai. Prosesi ini dilakukan oleh sang ibu mempelai dan menggiringnya menuju ke pelaminan. Sedangkan sang ayah akan menuntun perjalanan mempelai sembari memegang sindur tersebut.

Tujuan pernikahan adat Jawa ini adalah harapan besar yang diberikan orang tua kepada mempelai agar selalu erat karena telah dipersatukan. Makna prosesi ini juga berisi pengharapan agar pengantin baru siap menjalani bahtera rumah tangga beserta segala kebahagiaan dan kesukarannya.


[adrotate banner=”3″]


8. Pangkuan

Dalam alur prosesi pangkuan, kedua mempelai dengan sopan duduk di pangkuan ayah dari mempelai wanita. Mempelai pria duduk di paha kanan dan mempelai wanita di paha kiri.

Makna yang disimbolkan dari prosesi ini berupa keadilan. Harapan agar kedua mempelai mampu adil dalam berbagi kasih kepada keturunannya kelak. Selain itu, prosesi itu juga menyiratkan bahwa tidak ada lagi perbedaan kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anak maupun menantunya.

9. Tampa Kaya (Kacar Kucur)

pernikahan adat Jawa
Sumber : https://budayajawa.id/

Tampa artinya menerima, sedangkan kaya merupakan biji-bijian seperti beras kuning, padi, gabah, jagung, kacang tanah, kacang kedelai, sejumlah bumbu dapur, bunga sritaman, dan sejumlah uang logam.

Kaya ini selanjutkan dikucurkan oleh mempelai pria ke atas tikar pandan yang dipangku oleh mempelai wanita. Prosesi ini memiliki makna bahwa kelak ketika berumah tangga nafkah yang diberikan sang suami bisa diatur dengan baik oleh sang istri.


Baca Juga :


10. Dulang-dulangan (Dhahar Kalimah)

pernikahan adat Jawa
Sumber : http://cemelive.blogspot.com/

Dulang-dulangan merupakan Bahasa Jawa yang memiliki arti saling menyuapi. Prosesi yang bernuansa sakral dan mesra ini memperlihatkan kedua mempelai yang saling menyuapi sebanyak tiga kali suapan.

Makna yang dilambang dari prosesi ini adalah sikap tolong menolong dan rukun. Harapannya ketika berumah tangga kedua mempelai dapat hidup rukun dan saling membantu di segala situasi.

11. Sungkeman

Sungkeman merupakan prosesi yang paling mengharukan dalam rangkaian ritual ini. Kedua mempelai akan meminta doa dan memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuat.

Sungkeman dilakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua dan juga mertuanya. Apabila dalam acara prosesi turut hadir kakek dan nenek, urutan sungkeman dimulai dari kakek dan nenek kemudian disusul orang tua.

[adrotate banner=”1″]

Penutup

Bagaimana? Pastinya kamu sudah mendapatkan gambaran terkait pengertian pernikahan adat Jawa kan? Nah, tidak ada salahnya kamu mulai mempersiapkan segala pernak-perniknya mulai sekarang. Niatkan semua dalam hati dan mulailah berikhtiar.


[adrotate banner=”3″]


Semoga segala prosesi dari pernikahan adat Jawa yang kamu lakukan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dan kedepannya menjadi keluarga yang langgeng, rukun, dan selalu bahagia. Semoga.

Sumber gambar utama : https://reviensmedia.com/

Meidiana Putri

Hallo saya Meidiana Putri, seorang Ibu satu anak yang hidupnya dipenuhi cinta, senang sekali berimajinasi dan suka bercerita. Semoga bisa bermanfaat untuk semua.

Bagikan:

Leave a Comment